Ngakak

“Hijau Aman, Cara Buka Lahan Tanpa Bakar di 2026”

×

“Hijau Aman, Cara Buka Lahan Tanpa Bakar di 2026”

Sebarkan artikel ini

HIJAU itu bukan cuma warna favorit buat feed Instagram atau baju baru, tapi juga simbol bumi sehat dan udara segar yang bikin semua lega.

Tahun 2026, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengintai, terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Tapi tenang, kamu tetap bisa menjaga lahan tetap hijau tanpa membakar satu batang pohon pun.

Udara tetap segar, ayam tetangga nggak batuk, dan tetangga yang biasanya cerewet soal asap pun bisa senyum lega, karena ini semua bisa dicegah dengan cara nyata.

Sebelum mulai menyiapkan lahan, hal paling penting adalah mengecek peta rawan karhutla.

Menurut Kemenhut, peta ini menampilkan hotspot, lahan perusahaan pemegang izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH), dan kawasan konservasi.

Bisa dibilang versi Google Maps anti-bakar menunjukkan zona aman dan zona rawan. Dengan peta ini, kita bisa mengantisipasi kebakaran berulang di lokasi yang sama.

Jadi sambil menyiapkan lahan, kita tahu mana yang aman buat hijau dan mana yang perlu extra perhatian agar api nggak merusak.Kalau sudah tahu zona aman, saatnya membuka lahan tanpa bakar.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Thomas Nifinluri dalam rilis dilaman resmi kemenhut menekankan, cara mekanis atau manual seperti cangkul, sabit, atau rotavator mini sangat disarankan.

Selain menjaga lahan tetap hijau, cara ini juga mencegah munculnya hotspot baru. Sisa tanaman sebaiknya diolah menjadi kompos supaya tanah subur dan tetap hijau.

Nah, buat lebih aman, Kemenhut juga menyarankan membuat firebreak mini alias jalur tanah kosong di sekitar lahan. Ini lucu kalau dijelaskan, seperti jalan tol mini buat api, tapi api nggak diizinkan lewat!

Selain itu, Masyarakat Peduli Api (MPA) juga ikut jadi ujung tombak pencegahan karhutla di tingkat desa. Mereka berpatroli, mengecek titik panas, dan memberi peringatan dini.

Menurut Wamenhut Rohmat Marzuki, penambahan jumlah MPA di daerah rawan seperti Riau akan jadi prioritas kalau ada anggaran tambahan.

Dengan dukungan MPA, lahan tetap hijau, warga kompak, dan pencegahan kebakaran bisa berjalan lebih efektif.

Teknologi juga ikut main. Sistem Sipongi Plus milik Kemenhut mendeteksi hotspot secara real-time, memungkinkan tindakan cepat sebelum api meluas.

Ditambah lagi, operasi modifikasi cuaca (OMC) direncanakan tepat waktu sebelum puncak kemarau. Jadi, kombinasi manusia, teknologi, dan koordinasi antarinstansi membuat lahan tetap hijau sekaligus mengurangi risiko karhutla.

Secara hukum, Dirjen Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan, tidak ada toleransi untuk pembakaran hutan dan lahan.

Perusahaan pemegang PBPH wajib menangani karhutla di lokasi usaha mereka. Penegakan hukum ini menjadi instrumen efek jera yang nyata.

Jadi, menjaga lahan tetap hijau bukan cuma urusan teknis, tapi juga bagian dari tanggung jawab hukum.

BMKG memperkirakan risiko karhutla tinggi mulai Juli 2026, seiring pergeseran dari La Nina lemah ke kondisi netral.

Tiga pilar

Bahkan berpotensi menuju El Nino, artinya, pencegahan harus lebih dini, lebih sistematis, dan berbasis data. Thomas Nifinluri menekankan strategi tiga pilar, yaitu Pertama, analisis iklim dan pencegahan melalui monitoring cuaca, analisis wilayah, dan OMC.

Kedua, operasional pengendalian karhutla dengan satgas terpadu, deteksi dini hotspot, kesiapan pemadaman darat dan udara, posko lapangan, MPA, dan penegakan hukum.

Ketiga, pengelolaan lahan gambut dengan praktik pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB).

Sepanjang Januari 2026, tercatat 225 operasi penanganan karhutla dengan luasan sekitar 600 hektare berhasil dikendalikan.

Ini menunjukkan kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari TNI-Polri, pemerintah daerah, MPA, hingga dunia usaha dan akademisi, efektif menjaga lahan tetap hijau.

Kita perlu merefleksi diri, kita –kan semua ingin bumi ini tetap hijau, udara segar, anak-anak bisa lari-lari tanpa batuk, dan tetangga nggak ngomel soal asap.

Oleh karena itu membuka lahan tanpa bakar bukan cuma pilihan bijak, tapi juga investasi masa depan bumi. Percayalah, lahan yang hijau jauh lebih menarik daripada lahan yang cuma asap dan drama kebakaran.

Jadi kalau mau tetap hijau di 2026, langkah sederhananya, cek peta rawan karhutla, gunakan cara mekanis dan kompos, buat firebreak mini supaya api nggak nyebar, kolaborasi dengan MPA, dan manfaatkan teknologi deteksi dini.

Dengan langkah ini, kamu jadi pahlawan hijau buat diri sendiri, desa, dan anak cucu yang akan melihat bumi tetap hijau.

Sebelum ambil korek api atau mikirin bakar lahan karena malas, tanyakan ke diri sendiri “Aku mau hijau atau asap hari ini?” Pilihan ada di tangan kita, dan bumi pun tersenyum kalau kita memilih hijau. (***)/one