BEDAH rumah BSPS 2026 bisa bikin toko lokal rame kayak pasar malam? Program rumah murah ini ternyata nggak cuma soal cat kinclong atau genteng baru. Warga senang karena punya rumah layak huni. Toko bangunan lokal juga cuan karena ramai dikunjungi orang beli bahan bangunan.
Jadi, bedah rumah itu bukan cuma atap di kepala, tapi juga menggerakkan ekonomi desa dengan cara yang bikin semua tersenyum.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait kemarin menerima kunjungan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos di Wisma Mandiri II, Jakarta.
Pertemuan ini membahas cara mempercepat pembangunan rumah murah lewat BSPS 2026, termasuk kolaborasi dengan SMF dan PNM untuk memperkuat pembiayaan mikro. Intinya, program ini bikin warga punya rumah tanpa kena rentenir.
Tahun ini, kuota BSPS 2026 melonjak hingga 400 ribu unit, dengan prioritas di 100 kabupaten/kota termiskin. Bayangin saja, berapa banyak toko cat, toko semen, dan tukang bangunan yang ikut “cuan bareng”. Desa-desa pun ramai, kayak pasar malam setiap kali ada warga bedah rumah.
Gubernur Bengkulu menjelaskan rahasianya, dengan melibatkan toko bangunan lokal dan Baznas, biaya bisa ditekan, warga senang karena rumah murah, pedagang lokal juga ikut senyum-senyum.
Bahkan beberapa toko sampai kewalahan melayani permintaan, tapi senang karena dagangan laris. Jadi bedah rumah itu kayak efek domino, rumah baru muncul, toko bangunan ikut heboh, ekonomi desa joget-joget, warga tersenyum, dan pemerintah tepuk tangan puas.
Kalau dibaca pelan-pelan, efek domino itu maksudnya rumah baru bikin warga butuh material bangunan, toko ramai karena orang beli cat, semen, genteng, dan jasa tukang, ekonomi desa bergerak karena uang berputar di lokal. Warga senang karena rumah layak dan akses mudah ke fasilitas, dan pemerintah puas karena target program tercapai.
Hunian strategis
Program ini juga mendorong pembangunan hunian strategis dekat sekolah, rumah sakit, pasar, rumah ibadah, dan pusat aktivitas masyarakat. Jadi rumah baru nggak cuma murah, tapi juga praktis. Anak-anak gampang sekolah, orang tua gampang belanja, kesehatan gampang diakses hidup jadi lebih nyaman tanpa kantong bolong.
Maluku Utara dijadikan proyek percontohan Pemilihan Toko Terbuka. Sistem ini bikin bantuan rumah lebih transparan dan mencegah praktik merugikan warga. Jadi pedagang lokal punya kesempatan yang sama, warga nggak dirugikan, dan ekonomi lokal tetap hidup. Bisa dibilang, bedah rumah sekarang adalah win-win solution warga senang, pedagang cuan, pemerintah tersenyum lega.
Kalau dipikir-pikir, bedah rumah BSPS 2026 bukan cuma soal membangun fisik. Ini tentang membangun ekonomi desa sekaligus menjaga kantong rakyat. Rumah murah kini bisa bikin toko lokal rame, ekonomi desa hidup, dan warga punya rumah layak huni tanpa stres.
BSPS 2026 membuktikan bedah rumah itu lebih dari sekadar cat dan genteng. Dengan melibatkan toko lokal, memperluas kuota rumah murah, dan sistem transparan, semua pihak diuntungkan warga dapat rumah layak, pedagang cuan, pemerintah puas, dan ekonomi desa ikut bergerak.
Siapa sangka rumah murah bisa bikin toko lokal rame kayak pasar malam? Pantau terus BSPS 2026, siapa tahu rumah impianmu juga bikin ekonomi desa hidup, tetangga iri, dan pedagang senyum lebar!.(***)










































