Ngakak

Apa yang Dikerjakan Jersey Timnas Saat Kamera Mati?

×

Apa yang Dikerjakan Jersey Timnas Saat Kamera Mati?

Sebarkan artikel ini

APA yang dikerjakan jersey Timnas Indonesia saat kamera mati?
Jawabannya sederhana tapi sering luput jersey Timnas Indonesia bekerja paling keras, justru ketika tak ada sorotan saat latihan pagi, ruang ganti pengap, dan keringat jatuh tanpa tepuk tangan.

Satu momen dalam sepak bola itu memang  jarang masuk highlight, sebab bukan gol salto, bukan tekel bersih, apalagi selebrasi buka baju.

Momen itu sunyi. Kamera mati. Tribun kosong. Lampu stadion belum dinyalakan. Tapi justru di sanalah sepak bola bekerja paling keras.

Di situlah PSSI Kelme Timnas Indonesia bertemu bukan di panggung, tapi di proses.

Karena jujur saja, jersey itu tidak paling sibuk saat hari pertandingan. Ia justru kerja rodi saat latihan pagi, hujan rintik, badan pegal, dan pelatih mulai ngomel karena passing tak kunjung rapi. Jersey ikut menampung keringat, emosi, dan kadang umpatan kecil yang tak layak disensor.

Maka ketika PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) menggandeng Kelme sebagai apparel resmi Timnas Indonesia, ceritanya bukan cuma soal ganti merek. Ini soal filosofi siapa yang mau menemani Timnas di jam-jam paling sepi.

Sepak bola Indonesia sudah terlalu lama jatuh cinta pada hasil instan. Menang satu laga, kita pesta. Kalah satu pertandingan, kita bakar lini masa.

Padahal, sepak bola tidak dibangun dari notifikasi skor, tapi dari rutinitas yang membosankan latihan, evaluasi, ulangi, salah lagi, perbaiki lagi.

Dan di situ, jersey lebih sering hadir dibanding piala.

Kerja sama PSSI Kelme Timnas Indonesia ini menarik justru karena tidak menjual janji kilat. Tidak ada klaim “langsung juara” atau “langsung ke Piala Dunia.” Yang ditawarkan adalah kesabaran. Sesuatu yang di negeri ini sering kalah cepat dari sinyal Wi-Fi.

Kelme datang membawa pendekatan teknis jersey yang dirancang sesuai pergerakan pemain, bukan asal muat. Artinya sederhana pemain bisa fokus bermain, bukan sibuk narik kaus atau merasa gerah seperti latihan pakai jas hujan.

Terdengar sepele? Justru di situlah bedanya profesional dan asal jadi.

Dihargai

Pelatih Timnas, John Herdman, menyebut apparel sebagai bagian dari standar dan kebersamaan tim. Bahasa halusnya kalau hal kecil saja berantakan, jangan harap hal besar rapi. Jersey adalah pesan diam-diam bahwa setiap detail dihargai.

Yang bikin kerja sama ini makin relevan, Kelme tidak cuma hadir saat Timnas senior disorot kamera. Ia turun sampai ke kompetisi usia muda, referee apparel, Piala Soeratin, bahkan futsal nasional. Dari anak-anak yang masih grogi pakai sepatu baru, sampai pemain futsal yang sudah mengoleksi medali.

Ini bukan kerja sama selebritas datang, foto, lalu pamit. Ini kerja sama yang rela kotor.

Di sepak bola, yang sering bikin pemain berkembang bukan pujian, tapi rutinitas. Bangun pagi, latihan lagi. Salah lagi, dibenarkan lagi.

Jersey yang sama dipakai berulang kali, jadi saksi proses. Kalau bisa ngomong, mungkin ia lebih hafal progres pemain dibanding netizen.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut masuknya Kelme sebagai sinyal positif industri olahraga nasional. Tapi di lapangan, sinyal itu terasa dalam bentuk yang lebih konkret rasa dihargai. Pemain tahu mereka tidak sekadar dipersiapkan untuk satu laga, tapi untuk perjalanan.

Sementara bagi futsal, dukungan ini terasa seperti pengakuan. Bahwa futsal bukan cabang sampingan, tapi bagian utuh dari ekosistem sepak bola Indonesia. Jersey yang sama-sama serius, standar yang sama-sama tinggi.

Di titik ini, PSSI Kelme Timnas Indonesia sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sering kita lupa: kemajuan tidak selalu ribut. Kadang ia berjalan pelan, diam-diam, tanpa trending topic.

Jersey tidak bisa mencetak gol. Tapi ia bisa membantu pemain fokus mencetak gol. Jersey tidak bisa mengubah mental. Tapi ia bisa mendukung mental yang sedang dibangun.

Dan mungkin, inilah pesan paling penting dari kerja sama ini  jangan cuma jatuh cinta pada sorotan. Belajarlah menghargai proses saat kamera mati.

Karena di situlah fondasi dibangun. Di situlah standar lahir. Dan di situlah, suatu hari nanti, kemenangan menemukan alasan untuk datang.

Jadi, kalau sepak bola Indonesia ingin naik kelas, maka semua elemennya harus siap bekerja, bahkan saat tak ada yang menonton. Termasuk jersey.

Sehingga siapa tahu, saat kamera kembali menyala dan gol akhirnya tercipta, jersey itu bisa tersenyum dalam diam karena ia sudah bekerja sejak jauh hari. (***) one/pssi