DI pabrik masa depan, robot bertebaran, ada yang nyapu lantai, nyeduh kopi, bahkan nyanyi dangdut sambil ngerakit mesin. Keren banget kan? Tapi tunggu… lulusannya malah nggak bisa me rebus Indomie! Nah, di situlah dilema lucu Indonesia, SDM industri boleh jago teknologi, tapi kalau nggak bisa hidup sehari-hari, robotnya malah lebih berguna daripada manusia.
“Pendidikan vokasi harus prioritas nasional biar lulusannya bener-bener siap kerja, baik di dalam negeri maupun pasar global. Apalagi, SDM industri ini ujung tombak pertumbuhan ekonomi,” tambahnya. Jadi, kalau lulusan bisa coding AI tapi juga masak Indomie? Itu baru sempurna.
Oleh sebab itu Kementerian Perindustrian nggak mau setengah-setengah. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita ngeluarin jurus pamungkas, Strategi Baru Industrialisasi Nasional alias SBIN. Katanya, SBIN itu kayak GPS buat industrialisasi Indonesia supaya nggak nyasar, tumbuh mulus, dan naik kelas.
Tapi GPS tanpa sopir? Ya nggak kemana-mana dong. Nah, sopirnya ini adalah SDM vokasi manusia industri yang kreatif, adaptif, produktif, dan minimal bisa masak Indomie sendiri sebelum ngoding AI.
Implementasinya nggak main-main. BPSDMI kerja sama sama perusahaan China, Irootech Technology Co. Ltd., yang jagoan di Industrial Internet of Things (IIoT) alias bikin mesin bisa ngobrol satu sama lain lewat ROOTCLOUD Platform.
Terus ada Guangzhou Electromechanical Technician College, kampus vokasi yang ngajarin skill elektromekanika, otomatisasi, dan robotika. Misalnya mahasiswa sini bisa bikin robot yang nggak cuma nyapu, tapi juga bisa bikin kopi latte macchiato sambil rapat daring.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi bilang, “Kerja sama ini buat nge-boost SDM industri di bidang digitalisasi dan AI. Jadi, nggak cuma bikin robot canggih, tapi juga manusia canggih yang bisa kerja bareng robot.” Artinya, manusia dan robot harus kompak, bukan rebutan pekerjaan. Kalau nggak, nanti mahasiswa pinter teknologi cuma bisa ngelus dada liat robot bikin semuanya sendiri.
Wulan Aprilianti Permatasari, Kepala PPPVI, menambahkan, “Ini bukan cuma tanda tangan MoU, tapi bangun masa depan, memperkuat industri, dan bikin Indonesia-China jadi duet maut di era digital.” Kayak duo pahlawan, tapi versi pabrik dan AI, lengkap dengan skill masak mie instan ala survival mode.
Vice President Irootech, Ye Fai, semangat kerja sama ini nggak sekadar wacana. Mulai dari bikin standar dan kurikulum, pelatihan praktik, sampai tukeran guru dan mahasiswa. Jadi kalau Indonesia butuh talenta AI, siap! Kalau China butuh pengalaman industri, juga siap! Intinya, kolaborasi ini bikin industri lebih tangguh dan SDM lebih adaptif.
Guangzhou Electromechanical Technician College juga nggak mau kalah. Mereka siap bikin kurikulum, latih guru, tuker ilmu, sampai nonton drama mahasiswa kebingungan ngadepin robot. Pesannya jelas kalau pemerintah, industri, dan pendidikan kompak, tantangan AI dan revolusi industri 4.0 bisa dihadapi.
Oleh sebab itu, memang dunia industri bukan cuma soal mesin canggih atau AI. Yang paling penting adalah manusia di baliknya. Kalau manusia kreatif, adaptif, dan kolaboratif, robot bisa jadi partner, bukan pesaing. Dan kalau kalian masih bisa masak Indomie sambil coding AI, berarti kalian juara hidup modern!
Jadi, SBIN ditambah pendidikan vokasi ditambah lagi kolaborasi internasional hasilnya mudah-mudahan SDM siap tempur di industri global.
Robot boleh pinter, tapi manusia Indonesia harus lebih jago… dan jangan lupa masak Indomie dulu sebelum kerja. Karena industri boleh maju, tapi perut harus kenyang dulu, baru otak encer!.(***)










































