Hukrim

Sungai Pawan Kayu Ilegal Digerebek

×

Sungai Pawan Kayu Ilegal Digerebek

Sebarkan artikel ini

SUNGAI Pawan pada dini hari belum lamam ini, heningnya sungai lebih terasa dari Wi-Fi tetangga yang lagi error. Air mengalir pelan, kadang bergesekan dengan batang kayu yang nyasar.

Tapi hening itu pecah, bukan karena ikan meloncat, melainkan langkah kaki petugas Gakkum Kehutanan yang tiba-tiba muncul, bikin lima orang pelaku kayak ditampar kesadaran.

“Tolong tunjukkan dokumennya!” seru salah satu petugas, suaranya bisa bikin rakit kayu ikut gemetar.

Para pelaku? Cuma bisa bengong. Kayu bulat rimba campuran sebanyak 600 batang di rakit mereka siap melaju ke pasar gelap, tapi dokumen izin? NOL BESAR. Inilah jalur rahasia “jalan tikus” kayu ilegal Sungai Pawan yang tampak tenang tapi ternyata sedang diawasi.

Leonardo Gultom, Kepala Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan, cerita kronologi operasi sambil menahan senyum tipis.

“Kami bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat. Tim mendapati rakit kayu merapat di industri pengolahan kayu dini hari, dan saat diperiksa… ya, kosong dokumen!”

Dua unit klotok air ikut diamankan, lima orang pelaku ditahan buat dimintai keterangan. Lokasi industri yang diduga menampung kayu ilegal? Diamankan juga, supaya nggak ada yang kabur dari hukum.

Yang lucu, tapi serius, terjadi saat salah satu petugas bergumam lirih, “Kalau rakit ini bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang, “Tolong, jangan pakai saya buat curi hutan.” Semua yang mendengar tertawa, tapi di balik candaan itu tersimpan pesan moral hutan bukan ATM pribadi. Satu batang kayu ilegal yang diangkut malam itu bisa bikin negara dan ekosistem rugi, loh.

Dwi Januanto Nugroho, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, menambahkan dengan nada serius tapi tetap hangat “Tidak ada tempat bagi perusak hutan. Operasi ini bagian dari upaya menekan deforestasi dan kerugian negara akibat pembalakan liar.”

Sungai Pawan, yang selama ini dipakai pelaku sebagai “jalan tikus kayu ilegal,” kini jadi saksi bisu keberanian tim Gakkum.

Strategi pengintaian, patroli malam, dan koordinasi dengan masyarakat setempat terbukti ampuh. Jalan tikus itu ternyata… sempit, gelap, dan… ketahuan!

Di sisi lain, operasi ini memberi pelajaran penting, pengangkut hanyalah pion.

Leonardo Gultom menegaskan pihaknya tidak berhenti di rakit malam itu. “Kami akan terus mengembangkan kasus untuk mengungkap jaringan pemodal dan penerima manfaat utama.”

Termasuk industri penampung juga akan kami dalami keterlibatannya.” Artinya, siapa pun yang berpikir bisa main-main dengan hutan, siap-siap jadi bahan gosip petugas Gakkum.

Seandainya kalau hutan terus dijarah kayak gini, Sungai Pawan bukan hanya kehilangan fungsi ekologisnya, tapi juga akan kehilangan “cerita asik”-nya sebagai jalur hidup warga.

Apalagi kayu ilegal bukan cuma soal uang, tapi soal moral dan tanggung jawab, masyarakat harus lebih aware dan berani lapor, karena operasi ini terbukti sukses berkat laporan dari warga.

Kalau semua diam? hutan kita bakal nangis diam-diam, kayak ikan di sungai yang nggak ada yang mancing.

Ibarat kata pepatah “Air tenang menghanyutkan, hutan dijarah berdampak jauh.”

Tegakan hukum

Jadi intinya itu, jika sungai yang kelihatan tenang bisa jadi jalur curang, tapi sekarang sudah ada mata-mata manusia siap menegakkan hukum.

Ratusan batang kayu ilegal itu gagal sampai ke tujuan, hutan terselamatkan,  alam bukan barang dagangan, hukum harus ditegakkan, dan kejahatan lingkungan ada konsekuensinya.

Di akhir cerita ini, pelajaran yang bisa kita ambil sederhana dan penting, Sungai Pawan mungkin terlihat santai, tapi bagi yang berani merampok hutan. Semua orang selalu  waspada, apalagi karena alam selalu punya saksi, dan petugas Gakkum selalu siap jadi alarm hidup. Selama kayu ilegal masih dianggap “rezeki cepat” sungai dan hutan akan terus jadi korban.

Padahal, keuntungan sesaat itu berbanding terbalik dengan kerugian jangka panjang. Sungai rusak, hutan habis, masyarakat menanggung dampaknya. Yang untung cuma segelintir, yang rugi satu generasi. Jadi, untuk para perusak hutan,  jalan tikus itu sempit, gelap, dan kini… terpantau.

Untuk kita semua, ibarat kata pepatah  “Jangan menunda menanam pohon, karena esok mungkin sungai sudah menangis.”

Sungai Pawan, jalur rahasia kayu ilegal, kini jadi cerita kemenangan hukum, bukti bahwa keberanian, kerjasama masyarakat, dan strategi cerdas bisa mengalahkan. Oleh sebab itu hutan bukan milik pribadi, sungai bukan jalur bebas hukum. Jalan tikus mungkin licin, tapi selalu ada ujungnya.

Dan bagi siapa pun yang masih nekat bermain kayu ilegal, ingat satu hal di Sungai Pawan, malam tak lagi gelap. (***)