RUSUN subsidi Meikarta perlahan mulai keluar dari bayang-bayang masa lalu. Kawasan yang dulu kerap disebut kota hantu itu kini disiapkan pemerintah untuk menjadi hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Bekasi.
Meikarta sering dibicarakan seperti janji manis yang kelamaan disimpan, bungkusnya mewah, gambarnya kinclong, tapi realisasinya bikin banyak orang geleng kepala.
Ada yang menyebutnya kota masa depan, ada pula yang nyeletuk, “Ini mah masa depan, tapi alamatnya nyasar.” Bangunan berdiri, cerita belum kelar.
Suasana Meikarta mendadak beda, bukan karena ada launching heboh atau kembang api siang bolong, melainkan karena Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait turun langsung ke lapangan.
Dua titik ditinjau di kawasan Meikarta, Kabupaten Bekasi. Kali ini bukan jual mimpi, tapi ngukur tanah biar nyata, bukan katanya.
Pelan-pelan, Meikarta dicoba ditarik turun ke bumi, dari simbol ambisi raksasa, diarahkan jadi solusi yang lebih membumi, rumah susun subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Di lahan sekitar 10 hektare, direncanakan berdiri sekitar 18 tower rusun lengkap dengan sekolah, klinik, taman bermain, sampai fasilitas olahraga. Ibarat masak nasi, bukan cuma berasnya ada, lauknya juga disiapkan.
Soal lokasi, ini yang bikin dahi berkerut jadi senyum. Jarak ke kawasan industri cuma sekitar dua sampai dua setengah kilometer. Buruh tak perlu lagi berangkat kerja seperti mau mudik, atau pulang malam rasa pulang kampung. Dompet aman, tenaga pun selamat.
Nah, di sinilah Menteri Maruarar mulai pasang kacamata serius tapi santai. Ia tak mau rusun ini cuma bagus di foto, tapi bikin penghuninya ngos-ngosan.
Ia minta semuanya dipetakan dengan detail. Dari rumah ke masjid jangan lebih jauh dari niat, ke sekolah jangan sejauh kenangan, ke pasar jangan seperti perjalanan spiritual, dan ke rumah sakit jangan sampai butuh peta lipat tiga.
“Dipetakan jaraknya ke tempat ibadah, sekolah, pasar, dan rumah sakit. Empat hal itu penting, termasuk akses transportasinya,” kira-kira begitu pesannya, dengan makna jelas jangan sampai punya rumah bagus, tapi mau beli cabai saja harus naik ojek lintas kecamatan.
Ia juga menegaskan satu hal yang tak bisa ditawar. Kalau lahannya sawah, coret. Pembangunan rumah jangan sampai bikin sawah kehilangan alamat. Rusun boleh naik, tapi pangan jangan sampai turun.
Langkah ini seperti memberi Meikarta kesempatan kedua. Dari kawasan yang dulu kerap jadi bahan sindiran, kini dicoba dibalik jadi contoh rusun subsidi perkotaan.
Pemerintah pusat, daerah, dan swasta mulai duduk satu meja, dengan target yang tak kalah tegas tahun ini harus ada terobosan nyata, bukan janji yang kembali jadi spanduk.
Meikarta hari ini seolah sedang diuji ulang. Bukan lagi soal seberapa tinggi gedungnya, tapi seberapa dekat manfaatnya dengan kehidupan rakyat.
Kalau rencana ini berjalan lurus dan hati-hati, Meikarta bisa membuktikan bahwa kawasan yang pernah dicap gagal pun masih bisa menemukan jalan pulang.
Orang tua dulu bilang, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Meikarta sudah pernah berlayar jauh dan sempat oleng. Kini tinggal dibuktikan, apakah kapal ini benar-benar pulang membawa penumpang atau lagi-lagi cuma pulang membawa cerita. (***)









































